Bos BRI Sarankan Investor Lirik Saham Blue Chip Saat IHSG Terkoreksi

Bos BRI Sarankan Investor Lirik Saham Blue Chip Saat IHSG Terkoreksi

Nusantaratv.com - 30 April 2026

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Hery Gunardi memberikan pesan penting bagi investor saham di tengah terkoreksinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Hery Gunardi memberikan pesan penting bagi investor saham di tengah terkoreksinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Hery Gunardi memberikan pesan penting bagi investor saham di tengah terkoreksinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Diketahui, IHSG ditutup melemah 174,6 poin atau 2,46 persen di level 6.926,540 pada perdagangan sesi I hari Kamis 30 April 2026.

Direktur Utama BRI (BBRI) Hery Gunardi menilai, pergerakan harga saham dalam jangka pendek seharusnya tidak menjadi fokus utama bagi investor yang ingin melakukan investasi panjang.

Menurutnya, investasi saham idealnya disesuaikan dengan tujuan masing-masing investor. Untuk jangka panjang, seperti 5 hingga 20 tahun, ia menyarankan agar investor memilih saham-saham berfundamental kuat atau kategori blue chip.

"Kalau teman-teman misalnya ingin melakukan investasi jangka panjang, jangka panjang itu kan bisa misalnya 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, bahkan 20 tahun. Dan belilah saham-saham yang blue chip, yang fundamentalnya bagus seperti BBRI," ucap Hery dalam konferensi pers virtual, Kamis 30 April 2026.

Ia menambahkan, meskipun harga saham BBRI saat ini mengalami tekanan, investor sebaiknya melihat aspek lain seperti pembagian dividen. Menurutnya BBRI mampu memberikan  dividen yang cukup menarik, yakni sekitar 10–11 persen per tahun.

"Dividen kita kan cukup bagus ya, jadi paling tidak bisa memberikan antara 10-11 persen return per tahun. Mau cari investasi di mana sebesar itu, deposito aja mungkin hanya 7 persen. Kemudian reksa dana pasar uang mungkin sekitar 5,5-6 persen," bebernya.

Hery menegaskan bahwa strategi investasi jangka panjang berbeda dengan trading jangka pendek. 

Bagi investor yang ingin mempertahankan saham dalam waktu lama, fluktuasi harga sebaiknya tidak menjadi kekhawatiran utama.

Hery pun optimistis, ketika kondisi makroekonomi global dan domestik membaik, kinerja pasar saham termasuk saham-saham unggulan akan kembali menguat.

"Nanti kan marketnya bagus ya, makro ekonominya membaik, baik itu global maupun lokal, saham-saham itu pasti akan ikut naik gitu, indeks akan ikut naik," tandasnya.


 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close