Nusantaratv.com-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan dukungan penuh berupa evaluasi kajian ilmiah terhadap inovasi penanggulangan kabut asap melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) yang memanfaatkan es kering (dry ice).
Perekayasa Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Florentinus Heru Widodo, dalam keterangannya di Jakarta pada hari Senin, 19 Oktober 2026, menjelaskan bahwa salah satu pendekatan baru yang tengah diuji oleh tim terpadu dalam modifikasi cuaca ini adalah metode penyemaian menggunakan es kering atau karbon dioksida padat.
Berbeda dari teknik penyemaian awan pada umumnya yang bertujuan untuk memicu dan meningkatkan curah hujan pada awan yang memenuhi syarat, penggunaan es kering dalam konteks penanggulangan kabut asap ini difokuskan untuk menguji potensi perubahan kondisi termal pada lapisan inversi atmosfer.
“Es kering memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Ketika dilepaskan ke atmosfer, bahan tersebut mengalami sublimasi, yakni perubahan dari fase padat menjadi gas, sambil menyerap panas dari lingkungan sekitarnya,” ujar Heru.
Secara konseptual, pendinginan lokal yang ditimbulkan oleh proses tersebut diharapkan mampu menciptakan perbedaan suhu dan kerapatan udara, yang pada gilirannya dapat memicu pergerakan massa udara setempat serta mendongkrak peluang pencampuran udara secara vertikal.
Apabila perubahan termal yang dihasilkan cukup signifikan dan didukung oleh kondisi atmosfer yang memadai, lapisan inversi berpotensi melemah sehingga sirkulasi udara dapat bergerak lebih bebas dan memberikan ruang bagi pertumbuhan awan untuk berkembang.
“Penggunaan es kering diharapkan dapat menimbulkan pendinginan lokal dan memengaruhi kestabilan udara pada lapisan inversi. Namun, mekanisme ini masih merupakan hipotesis ilmiah. Kita harus menguji apakah perubahan yang dihasilkan benar-benar cukup untuk melemahkan inversi dan mendukung pertumbuhan awan,” lanjutnya, dikutip dari Antara.
Kendati demikian, Heru mengingatkan bahwa karakteristik lapisan inversi sering kali mencakup wilayah yang sangat luas dengan tingkat kestabilan atmosfer yang bervariasi. Oleh karena itu, gangguan suhu yang dilakukan pada satu titik tertentu belum tentu serta-merta mampu mengubah kondisi atmosfer secara menyeluruh.
Menurutnya, tingkat keberhasilan dari metode ini tidak bisa hanya dinilai berdasarkan asumsi teoretis mekanisme pendinginan semata, melainkan wajib dibuktikan melalui validasi data dan analisis atmosfer yang komprehensif.
Guna mendukung kelancaran operasi tersebut, Heru menyebutkan bahwa BRIN siap menerjunkan tim untuk melakukan analisis mendalam berdasarkan data pengamatan atmosfer yang dihimpun oleh instansi pelaksana bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Data pengamatan yang diperlukan mencakup profil suhu udara secara vertikal, tingkat kelembapan, informasi mengenai ketinggian serta ketebalan lapisan inversi, hingga berbagai parameter kestabilan atmosfer lainnya.
Proses pengukuran tersebut dapat memanfaatkan perangkat radiosonde yakni instrumen cuaca khusus yang mampu memberikan data akurat mengenai suhu, kelembapan, dan parameter meteorologi lainnya pada berbagai tingkat ketinggian. Selain itu, data suhu yang terekam selama penerbangan juga dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi letak lapisan inversi serta memperkirakan ketebalannya secara presisi.
Heru menekankan pentingnya pelaksanaan pemantauan secara sistematis yang dilakukan sebelum, selama, hingga sesudah proses penyemaian es kering. Dengan cara ini, setiap anomali atau perubahan kondisi udara dapat didokumentasikan dan dikomparasikan secara akurat.
Pendekatan berbasis data ini dinilai sangat krusial mengingat efektivitas dari setiap teknologi modifikasi cuaca sangat bergantung pada dinamika kondisi atmosfer saat operasi lapangan dijalankan.
“Kita ingin memastikan bahwa setiap teknologi yang digunakan dalam penanggulangan bencana memiliki dasar ilmiah yang kuat. Data pengamatan menjadi kunci untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan benar-benar memengaruhi lapisan inversi, atau apakah perubahan kondisi yang terjadi juga dipengaruhi dinamika cuaca lainnya,” pungkas Florentinus Heru Widodo.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh