Nusantaratv.com - Penjualan kendaraan listrik (EV) diproyeksikan terus meningkat dan berpotensi melampaui penjualan mobil bermesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE) pada 2030.
Perkembangan ini diperkirakan membawa perubahan besar terhadap industri otomotif, termasuk sektor komponen kendaraan. Produsen komponen lokal pun dituntut mulai beradaptasi untuk menangkap peluang sekaligus menghadapi tantangan dari peralihan teknologi tersebut.
Wakil Direktur Utama PT Selamat Sempurna Tbk., Ang Andri Pribadi, menilai pesatnya pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia merupakan ancaman sekaligus peluang bisnis baru bagi industri komponen otomotif.
Menurutnya, peralihan menuju kendaraan listrik akan mengubah arsitektur rantai pasok (supply chain). Sejumlah komponen yang sebelumnya digunakan pada mobil konvensional berpotensi tidak lagi dibutuhkan. Namun, di sisi lain, kebutuhan terhadap komponen baru juga akan meningkat.
"Peluangnya sebetulnya juga sangat besar karena perubahan ini turut mengubah arsitektur supply chain. Dengan demikian, kebutuhan terhadap komponen-komponen baru juga akan muncul. Tentu ini menjadi ancaman bagi produsen komponen otomotif yang produknya tidak lagi digunakan dalam sistem electric vehicle," ujar Ang Andri dalam program "Nusantara Economic Updates" yang tayang di Nusantara TV, Rabu (4/11/2026).
Menghadapi perubahan tersebut, PT Selamat Sempurna Tbk., mulai menyiapkan strategi diversifikasi produk. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi perubahan kebutuhan pasar otomotif dalam jangka panjang.
Ang Andri menjelaskan, transformasi yang terjadi bukan sekadar perubahan teknologi kendaraan, melainkan juga menyangkut struktur industri dan rantai pasok.
Meski perusahaan lebih banyak berfokus pada pasar aftermarket dibandingkan original equipment manufacturer (OEM), perubahan tersebut tetap menjadi perhatian serius.
"Kami melihat perubahan ini cukup besar. Bukan hanya perubahan teknologi kendaraan listrik, tetapi juga perubahan struktur industri dan supply chain. Tentu bagi kami, karena lebih fokus di pasar aftermarket dibandingkan OEM, kami melihat ini sebagai ancaman jangka panjang. Karena itu, perubahan harus dilakukan dari sekarang," jelasnya.
Salah satu strategi yang disiapkan adalah memperluas pengembangan produk yang sesuai dengan kompetensi inti perusahaan.
Selamat Sempurna mulai melihat potensi besar pada produk filter untuk kebutuhan heating, ventilation, and air conditioning (HVAC), serta filter industri.
Segmen tersebut dinilai memiliki peluang pertumbuhan yang menjanjikan, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman (FnB), rumah sakit, farmasi, pusat data (data center), hingga gedung komersial.
Penjualan EV Diprediksi Lampaui ICE pada 2030
Ang Andri mengungkapkan, industri otomotif diperkirakan akan menghadapi dua tahapan besar dalam transisi menuju kendaraan listrik.
Tahap pertama diproyeksikan terjadi pada 2030, ketika penjualan kendaraan listrik berpotensi melampaui penjualan mobil bermesin pembakaran internal atau ICE.
"Menurut informasi yang saya peroleh dari rekan bisnis dan asosiasi, pada 2030 jumlah penjualan EV mungkin akan lebih besar dibandingkan penjualan ICE. Saat ini, penjualan EV masih berada di kisaran belasan persen, sedangkan ICE sekitar 70 persen. Selain itu, ada juga kendaraan hybrid," paparnya.
Tahap berikutnya diperkirakan terjadi pada dekade 2040-an. Pada periode tersebut, jumlah populasi kendaraan listrik diproyeksikan melampaui populasi mobil konvensional.
Meski demikian, saat ini kendaraan bermesin pembakaran internal masih mendominasi populasi kendaraan, baik di Indonesia maupun secara global.
Ang Andri menyebut, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang dilihatnya untuk 2025, komposisi populasi kendaraan di Indonesia masih didominasi mobil ICE sebesar 98 persen.
Sementara itu, kendaraan hybrid berada di kisaran 1 persen dan kendaraan listrik sekitar 1 persen.
Kondisi serupa juga terlihat pada skala global. Populasi kendaraan ICE diperkirakan masih mencapai sekitar 88 persen. Adapun kendaraan hybrid sekitar 6,9 persen dan kendaraan listrik sekitar 3,4 persen.
"Jadi, kalau kami melihat ke depan, khususnya menjelang 2030, potensi komponen untuk kendaraan listrik di Indonesia tentu akan meningkat cukup signifikan. Oleh karena itu, seluruh pemain komponen otomotif harus melihat bahwa kebutuhan terhadap komponen ini akan terus bertambah. Misalnya, komponen yang berkaitan langsung dengan manajemen termal, seperti battery cooling, kemungkinan akan semakin banyak dibutuhkan," jelasnya.
Produsen Komponen Lokal Harus Penuhi Standar Global
Lebih lanjut, Ang Andri menilai peluang bagi industri komponen lokal untuk masuk ke dalam rantai pasok kendaraan listrik sangat besar.
Masuknya investasi dan pembangunan pabrik kendaraan listrik di Indonesia memang membuka kesempatan bagi produsen komponen dalam negeri. Namun, investasi tersebut tidak otomatis membuat perusahaan lokal mendapatkan manfaat yang sama.
Tantangan utamanya adalah kemampuan produsen dalam negeri untuk memenuhi persyaratan dan masuk ke dalam rantai pasok pemain otomotif global.
Menurut Ang Andri, setidaknya ada tiga aspek utama yang harus dipenuhi produsen komponen lokal, yakni quality, cost, dan delivery (QCD).
Pertama, kualitas produk harus memenuhi standar global. Kedua, harga harus kompetitif agar mampu bersaing dengan produsen dari negara lain.
Ketiga, produsen harus memiliki kemampuan pengiriman yang konsisten dan tepat waktu. Aspek ini sangat penting, terutama bagi perusahaan yang memasok komponen untuk OEM karena ketepatan waktu menjadi salah satu faktor utama dalam proses produksi.
"Quality harus berstandar global. Kualitas menjadi hal yang utama. Kedua, dari segi cost, kita harus menawarkan harga yang kompetitif. Ketiga, yang paling penting adalah kemampuan delivery yang konsisten. Ketepatan waktu sangat penting, apalagi jika kita memasok komponen untuk OEM karena timing is very important," tegasnya.
Ang Andri juga mengingatkan agar Indonesia tidak hanya menjadi lokasi produksi sekaligus pasar bagi kendaraan listrik global.
Menurutnya, industri komponen dalam negeri harus mampu mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok otomotif masa depan. Dengan begitu, nilai tambah dari pertumbuhan industri kendaraan listrik tidak hanya dinikmati oleh pemasok dari luar negeri.
"Jangan sampai ke depannya Indonesia hanya menjadi tempat produksi atau sekadar pasar. Sementara itu, nilai tambah terbesarnya justru dimiliki oleh pemasok dari luar negeri," pungkasnya.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh