Kerja Harian Dibayar Negara, Padat Karya Jadi Nafas Pemulihan Warga Aceh Tamiang

Kerja Harian Dibayar Negara, Padat Karya Jadi Nafas Pemulihan Warga Aceh Tamiang

Nusantaratv.com - 21 Januari 2026

Warga sekitar dilibatkan langsung dalam proses pembersihan dan pemulihan wilayah melalui program Padat Karya. (Foto: Dok/Istimewa)
Warga sekitar dilibatkan langsung dalam proses pembersihan dan pemulihan wilayah melalui program Padat Karya. (Foto: Dok/Istimewa)

Penulis: Adiantoro

Nusantaratv.com - Aceh Tamiang perlahan bangkit setelah bencana banjir menerjang dan meninggalkan lumpur di permukiman, jalan kota, hingga fasilitas pendidikan. 

Di tengah proses pemulihan itu, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat penanganan pascabencana dengan pendekatan yang tak hanya membangun kembali infrastruktur, tetapi juga menghidupkan kembali penghidupan warga terdampak.

Melalui program Padat Karya, warga sekitar dilibatkan langsung dalam proses pembersihan dan pemulihan wilayah.

Setiap hari, mereka bekerja di sejumlah titik dengan upah Rp140.000 per hari, sebuah penghasilan yang cukup berarti di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Percepatan Pemulihan Infrastruktur

Di pusat kota Kuala Simpang, suasana gotong royong terlihat sejak pagi. Warga menyapu badan jalan yang masih tertutup bekas lumpur, sementara sebagian lainnya menyemprotkan air agar sisa tanah mudah dibersihkan.

Sampah dan material sisa banjir kemudian diangkut menggunakan truk menuju tempat pembuangan akhir. Kementerian PU mengoptimalkan skema padat karya, terutama di lokasi yang sulit dijangkau alat berat.

Dengan dukungan peralatan berukuran kecil, proses pembersihan tetap berjalan efektif dan menyentuh seluruh area terdampak, mulai dari jalan kota, permukiman, hingga fasilitas umum.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan, penanganan pascabencana tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata. Menurutnya, pemulihan harus mampu menggerakkan kembali roda perekonomian masyarakat.

Infrastruktur yang pulih, kata dia, harus sejalan dengan kehidupan warga yang kembali berjalan.

Harapan Baru bagi Warga Terdampak

Selain jalan kota, program Padat Karya juga difokuskan pada pemulihan fasilitas pendidikan, salah satunya di SMP Negeri 2 Karang Baru. Dengan mengenakan helm proyek, sepatu boots, dan rompi kerja, warga tampak bekerja tanpa mengenal lelah di bawah terik matahari. 

Beberapa ruang kelas dan halaman sekolah masih menyisakan lumpur yang harus dibersihkan agar kegiatan belajar mengajar bisa segera dimulai kembali.

Bagi warga, program ini bukan sekadar pekerjaan sementara. Tri Kurniawan mengaku sangat terbantu dengan adanya padat karya. 

"Senang karena dapat pekerjaan. Walaupun tidak ramai, tapi ada lah uang untuk bantu orang tua. Sekarang keadaan lagi susah, orang tua juga tidak ada uang," ujarnya. 

Upah yang dia terima sebagian dibagikan kepada orang tuanya, sisanya digunakan untuk kebutuhan lain.

Hal senada disampaikan Arfansyah yang ikut membersihkan SMP Negeri 2 Karang Baru. Dia berharap sekolah tersebut segera pulih. 

"Kami bersama kawan-kawan membersihkan sekolah yang baru kena banjir. Supaya SMP Negeri 2 Karang Baru bisa cepat pulih dan proses belajar mengajar kembali seperti semula," katanya.

Melalui program Padat Karya, pemerintah berupaya memastikan pemulihan di Aceh Tamiang berjalan lebih menyeluruh. Jalanan dibersihkan, sekolah dipulihkan, dan di saat yang sama warga mendapatkan penghasilan untuk menyambung hidup. 

Di tengah sisa-sisa bencana, program ini menjadi langkah nyata untuk membangun kembali Aceh Tamiang dari bawah bersama warganya.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close