Nusantaratv.com-Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyoroti pentingnya pengawasan melekat serta kepedulian jajaran pimpinan di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) guna mengantisipasi maraknya potensi konflik internal dan pelanggaran anggota di lapangan.
Anggota Kompolnas Arief menegaskan bahwa sosok komandan memiliki peran sentral sebagai figur panutan yang menentukan moral dan integritas para bawahannya.
Arief mengungkapkan bahwa kepemimpinan di jajaran Polri—mulai dari tingkat paling bawah hingga tingkat atas—tidak boleh lagi sekadar menjalankan tugas secara rutinitas belaka (business as usual). Menurutnya, pengawasan melekat (waskat) yang diiringi dengan rasa kepedulian nyata dari pimpinan merupakan kunci utama dalam memelihara disiplin prajurit.
"Kepemimpinan di lingkup Polri dari tingkat paling bawah sampai tingkat paling atas itu harus ada namanya pengawasan melekat atau kepedulian. Jadi jangan melaksanakan business as usual," ujar Arief saat menjadi narasumber dalam program KASIPAHAM di Nusantara TV, Selasa (27/10/2026).
Ia menambahkan, tradisi seperti pelaksanaan arahan pagi (app morning briefing) harus terus dijaga agar terjalin komunikasi batin antara atasan dan bawahan.
Dengan pola pendekatan tersebut, anggota di lapangan akan merasa diperhatikan oleh pimpinannya secara langsung.
Selain masalah kepemimpinan, Kompolnas juga mendorong adanya penyesuaian kurikulum di lembaga-lembaga pendidikan kepolisian, seperti Sekolah Polisi Negara (SPN). Arief menilai, materi kurikulum perlu mengedepankan aspek praktis lapangan ketimbang terlalu berfokus pada pelajaran yang bersifat filosofis.
"Di lembaga pendidikan jangan banyak sekali pelajaran-pelajaran sifatnya filosofi. Filosofi penting, tapi pelajaran-pelajaran yang menjadi sangat penting untuk implementasi kita di lapangan itu harus ditanamkan benar-benar," tegas Arief.
Ia menyarankan agar regulasi kepolisian dan Peraturan Kapolri (Perkap) disederhanakan dalam bentuk buku saku yang mudah dipahami anggota, bukan sekadar menjadi penghias perpustakaan.
Keterampilan dasar masyarakat seperti pelayanan "senyum, sapa, salam" saat menerima laporan warga serta kecakapan mengemudikan kendaraan dinas perlu dilatih secara intensif agar tidak memicu insiden di lapangan.
Terkait dengan masuknya anggota-anggota muda ke dalam institusi Polri, Arief menggarisbawahi bahaya munculnya dorongan atau mentalitas "mencari kembali modal" setelah berhasil menjadi polisi. Untuk membendung hal tersebut, komandan di tiap satuan wajib memperlihatkan keteladanan yang nyata.
Arief menyinggung ajang penghargaan Hoegeng Award sebagai salah satu tolok ukur figur polisi ideal yang patut dicontoh oleh para prajurit muda.
"Anggota Polri itu sendiri tetap harus punya semacam panutan keteladanan. Komandannya kemarin kan pernah di acara Hoegeng Award, itu menjadi panutan teladan. Kita harus ada cita-cita begitu. Kalau enggak, orang masuk jadi polisi susah, kadang-kadang pakai..., jadi nanti akhirnya begitu jadi polisi 'wah saya harus kembali modal nih'. Nah, itu harus ditanamkan di benak mereka," paparnya.
Mengenai penggunaan senjata api (senpi) oleh anggota Polri yang rentan memicu insiden fatal, Arief menekankan pentingnya kepatuhan penuh terhadap seluruh tahapan seleksi dan evaluasi berkala.
Prosedur pemegang senpi harus melalui serangkaian pengujian terpadu, mulai dari tes kesehatan fisik, tes kesehatan jiwa, hingga tes bebas narkoba. Namun, Arief menegaskan faktor penentu terpenting berada pada diskresi dan pertimbangan pimpinan langsung.
"Yang paling penting adalah rekomendasi pimpinan, itu harus betul-betul diikuti, jadi jangan dilepas gitu aja. Polisi itu adalah pelindung, pengayom, pelayan masyarakat, jadi dia harus mempunyai kemampuan lebih terhadap apa yang diharapkan oleh masyarakat," jelas Arief.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh