Nusantaratv.com - Nama besar, sejarah panjang, hingga lemari trofi yang penuh ternyata tidak selalu mampu menyelamatkan sebuah klub sepak bola dari kehancuran.
Bahkan, klub yang pernah menjuarai kompetisi Eropa, memiliki pemain-pemain kelas dunia, dan didukung puluhan ribu suporter sekalipun bisa mengalami kebangkrutan.
Penyebabnya beragam, mulai dari utang yang menumpuk, buruknya pengelolaan keuangan, hingga kegagalan manajemen mempertahankan bisnis klub.
Ketika masalah tersebut tidak lagi dapat diselesaikan, konsekuensinya bisa sangat berat. Sebuah klub dapat kehilangan status profesional, terlempar ke kasta bawah, bahkan harus membangun kembali organisasinya melalui perusahaan baru.
Namun, kebangkrutan ternyata tidak selalu menjadi akhir dari sebuah perjalanan. Sejumlah klub justru mampu bangkit kembali ke kompetisi tertinggi, bahkan meraih gelar juara setelah melewati masa-masa paling kelam dalam sejarah mereka.
Kita mulai dari Italia, tepatnya di Kota Florence. Fiorentina merupakan salah satu klub bersejarah yang pernah menjadi kekuatan besar sepak bola Italia.
Klub berjuluk "La Viola" ini pernah menjuarai Serie A pada 1956 dan 1969. Memasuki era 90-an, Fiorentina semakin dikenal berkat kehadiran pemain-pemain bintang seperti Gabriel Batistuta, Rui Costa, hingga Francesco Toldo.
Bahkan, pada masa 1999-2000, Fiorentina masih tampil di Liga Champions. Namun, di balik nama besar tersebut, kondisi keuangan klub perlahan memburuk.
Masalah finansial semakin parah pada masa kepemimpinan Vittorio Cecchi Gori. Fiorentina menanggung utang besar dan mengalami kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran gaji pemain.
Puncaknya terjadi pada tahun 2002. Setelah terdegradasi dari Serie A, Fiorentina gagal memenuhi persyaratan finansial untuk mengikuti kompetisi Serie B.
Klub akhirnya dinyatakan bangkrut dan kehilangan tempatnya dalam sepak bola profesional Italia. Bayangkan, klub yang sebelumnya bersaing di Liga Champions ini harus memulai kembali dari Serie C2, kasta keempat.
Fiorentina kemudian dibentuk kembali dengan nama Florentia Viola, di bawah kepemilikan pengusaha Diego Della Valle.
Menariknya, di tengah kejatuhan tersebut, Angelo Di Livio memilih bertahan bersama klub. Loyalitas sang pemain menjadi salah satu simbol kebangkitan "La Viola".
Baca Juga: NTV SPORTCAST: Eks Ketum The Jakmania Tegaskan Rivalitas Suporter Harus Dilandasi Sportivitas
Florentia Viola langsung menjuarai Serie C2 pada musim pertamanya. Melalui restrukturisasi kompetisi Italia, mereka kemudian mendapat tempat di Serie B.
Hanya dua tahun setelah kebangkrutan, Fiorentina berhasil kembali ke Serie A pada tahun 2004 setelah mengalahkan Perugia dalam pertandingan playoff.
Kisah Fiorentina membuktikan bahwa sebuah klub bisa kehilangan perusahaan, pemain, bahkan namanya, tetapi tetap mempertahankan dukungan masyarakat yang membesarkannya.
Jika Fiorentina pernah menjadi kekuatan besar Italia, Parma memiliki kisah yang tidak kalah dramatis.
Pada era 90-an, Parma merupakan salah satu klub paling ditakuti di Eropa. Mereka memiliki pemain-pemain kelas dunia seperti Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Lilian Thuram, Hernán Crespo, hingga Juan Sebastián Verón.
Parma juga berhasil memenangkan Piala UEFA pada 1995 dan 1999. Tidak hanya itu, klub berjuluk "I Gialloblù" tersebut juga meraih sejumlah trofi Coppa Italia dan Piala Super Eropa.
Namun, kejayaan Parma tidak bertahan selamanya. Masalah mulai muncul ketika perusahaan induk yang mendukung keuangan klub, Parmalat, mengalami skandal finansial besar pada 2003.
Parma kemudian menghadapi ketidakstabilan keuangan yang berkepanjangan. Situasi semakin buruk pada musim 2014-2015. Klub mengalami kesulitan membayar gaji pemain, sementara utang terus menumpuk.
Pada 19 Maret 2015, pengadilan resmi menyatakan Parma bangkrut. Total utang klub ketika itu mencapai sekitar 218 juta euro. Akibatnya, Parma tidak dapat melanjutkan perjalanan sebagai klub profesional dalam struktur lamanya.
Klub kemudian dibentuk kembali dengan nama Parma Calcio 1913 dan harus memulai kembali dari Serie D, kasta keempat sepak bola Italia.
Bayangkan, klub yang pernah dua kali memenangkan Piala UEFA harus menghadapi tim-tim amatir. Namun, Parma tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali bangkit.
Mereka berhasil promosi dari Serie D pada musim 2015-2016. Musim berikutnya, Parma kembali mendapatkan promosi ke Serie B. Pada musim 2017-2018, Parma memastikan tiket kembali ke Serie A.
Tiga promosi dalam tiga musim secara beruntun. Perjalanan tersebut menjadikan Parma salah satu contoh kebangkitan paling mengesankan dalam sejarah sepak bola Italia.
Simak selengkapnya dalam video di bawah ini.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh