Nusantaratv.com-Badan Pengawas Obat dan Makanan membina 2.407 pedagang takjil bermasalah di 513 lokasi pengawasan yang tersebar di 38 provinsi guna memastikan pangan yang dijual selama Ramadhan aman dikonsumsi masyarakat.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan pembinaan dilakukan agar pelaku usaha tidak lagi menggunakan bahan berbahaya dalam makanan yang dijual.
BPOM melakukan pengujian terhadap 5.447 sampel pangan takjil dari berbagai daerah di Indonesia. Hasilnya, sebanyak 108 sampel atau sekitar 2 persen dinyatakan tidak memenuhi syarat keamanan pangan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 50 sampel mengandung formalin, 35 sampel mengandung rhodamin B, 22 sampel mengandung boraks, dan satu sampel mengandung pewarna tekstil metanil yellow.
Bahan berbahaya tersebut ditemukan pada sejumlah produk seperti mi kuning, tahu, kerupuk, lontong, hingga minuman berwarna mencolok.
Selain itu, BPOM juga menemukan pelanggaran pada produk pangan di kawasan grosir Pasar Rebo, Jakarta, seperti izin edar yang sudah kedaluwarsa, penggunaan nomor izin edar milik produk lain, hingga pemalsuan identitas produk.
Meski demikian, BPOM menyebut tidak semua pedagang takjil bermasalah. Di salah satu sentra takjil di Makassar, seluruh 45 sampel yang diuji justru memenuhi standar keamanan pangan.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh